Sabtu, 01 September 2012

FAKTA : COKLAT VS DEPRESI


Salah besar bila kita mengira coklat dapat menimbulkan depresi, hal itu hanyalah mitos di kalangan masyarakat. Coklat sebenarnya sehat dan malahan menjauhkan kita dari keadaan depresi.
Dr. Beatrice Golomb beserta kolega baru-baru ini meneliti hubungan antara tingkat depresi dan konsumsi coklat. Mereka menemukan bahwa yang mengalami depresi terkadang mengkonsumsi banyak coklat.
Tentu saja kita akan makan coklat ketika kita mengalami depresiKita akan makan coklat untuk mengubah mood kita, dan bukan karena makan coklat itu mengakibatkan depresi kita bertambah.
Mari kita lihat kembali pada studi ini. Studi ini adalah sebuah cross-sectional analysis, hanya mengacu pada suatu waktu saja, bukan benar-benar tepat sasaran dan akurat.
Ada lebih dari 900 laki-laki dan wanita dalam studi ini, tidak ada diantara mereka yang anti depresi. Para partisipan yang ikut diamati tiap-tiap minggunya
dalam satu minggu. Mereka yang rata-rata mengkonsumsi 5,4 porsi (ukuran 1 porsi = 1 onz) dari coklat menunjukkan tidak adanya depresi. Mereka yang tercatat mengalami depresi berat rata-rata mengkonsumsi 12 porsi coklat per bulan. Di situlah letak kesalahannya, mengapa tidak seseorang mengkonsumsi 12 ons coklat per bulan. Selama itu bukan 12 kilo harusnya itu adalah wajar.
Mari kita bandingkan dengan beberapa hal yang kita semua ketahui.  Coklat mengandung antioksidant (terutama coklat yang gelap bukan yang putih). Kata yang sering kita dengar namun terkadang kita lupakan, antioksidant adalah senyawa yang membenci radikal bebas.
Berikut ini adalah beberapa poin keuntungan dari memakan coklat bagi diri kita :
  •  Senyawa antioksidant-nya penting untuk menjauhkan kita dari radikal bebas.
  • Coklat menurunkan tekanan darah.
  • Coklat membantu kita untuk terjauh dari penyakit hati dan hipertensi.S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar